Sisters in Christ

Kemarin ini baru saja temu rindu dengan beberapa teman gereja saya. Saya dan 4 sahabat saya (Kara, Bekka, Kezia, Jiva) menyebut genk kami “YanCan”. Kurang 1 orang sih (Tepot) karena dia kuliah lanjut kerja di negeri tetangga. Terlalu sayang sama mereka sampai langsung ingin menulis cerita tentang genk ini dan pengen nostalgia ke jaman remaja.

166230_10150109684631800_750026799_7514967_8342250_n

Persahabatan kami dimulai dari sekitar tahun 2005, saat itu kami masih SMP. Yep, mulai dari masih pada cupu berats (dan saya masih bulet) sampai sekarang udah pada kece. Saya (dan Tepot) satu angkatan lebih tua dibanding 4 yang lainnya. Sekolah kamipun berbeda-beda. Tapi ga pernah ada yang istilahnya senioritas di gereja. Mulainya dari menjadi pengurus di remaja junior di gereja kami, GKI Pondok Indah. Sebenarnya kami berkelompok cukup ramai saat itu, tetapi seiring waktu berjalan hanya sisa kami ber5 yang masih sering ngumpul. Banyaknya kegiatan ketika remaja membuat kami amat sangat dekat. Saat itu, gereja bagai rumah kedua. Kami bisa menghabiskan SETIAP HARI di gereja hanya untuk rapat dan persekutuan. Pulang ibadah hari Minggu, pasti kami juga nongkrong dulu. Foto-foto di setiap perjumpaan juga wajib.

Too much fun! Banyak banget yang sudah kami lakukan bersama-sama. Dari belajar jualan di bazaar untuk cari dana, car wash, acara retreat, persekutuan, sushi tei-ing lanjut karaoke, pool party, bbq-an, ngurusin acara CUP di gereja, awal mula yang membuat bazaar murah remaja-pemuda (zamur remuda), sampe doa bersama, asli deh banyak banget yang terjadi sampai tahun 2009-2010 selama kami bersama-sama menjadi pengurus remaja. Dan entah kenapa semudah itu untuk kami kumpul terutama rapat di hari biasa. Saat itu beberapa dari kami juga ada yang les dan ada kegiatan lain pastinya selayaknya anak-anak SMP-SMA lainnya. Tapi pasti selalu ada waktu untuk rapat dan dibela-belain nyusul walau masih dengan seragam sekolah hahaha… Rapat dulu jadi salah satu hobby kami, entahlah kenapa kami seneng banget rapat. Weekend juga entah kenapa bisa bagi waktu antara pergi dengan teman gereja dan teman sekolah atau mungkin dengan pacar. We’re like family in Christ banget sih, karena rasa sayangnya udah lebih dari sahabat. Walau kami ‘anak gereja’ tapi kami juga manusia biasa, anak-anak ABG juga yang ada berantemnya, ada marah-marahnya, ada gosipin orang, dan ada yang saling ngomongin juga.

Kamipun akrab dengan kakak-kakak pemuda yang usianya jauh diatas kami. Percaya-percaya aja mau diajak jalan kemana. Dan mau aja mereka main sama anak-anak bocah sotoy macam kami hahaha.. Kami sampe punya istilah ‘Sampai dulu aja di gereja, pulangnya gampang, pasti nanti ada yang nganterin.’ Kebetulan di kepengurusan kami ini ga banyak yang bawa mobil sendiri, alhasil jadi nebeng-ers.

I’m so blessed bisa merasakan indahnya masa muda dengan keluarga kedua saya di gereja. Banyaaaaaak banget ilmu tambahan yang saya dapat ketika masih jadi pengurus remaja dan bergaul dengan mereka. Dan yang paling benar-benar membuat saya bersyukur adalah mereka selalu ada ketika susah dan senang, selalu saling mendoakan, dan positif. Ga ada yang fake, ga ada yang bohong demi pencitraan, benar-benar apa adanya. Duh, inget masa lalu rasanya pengen kembali lagi deh ke masa-masa itu. Terlalu indah dan penuh warna rasanya.

DSCN6425 DSCN2242 DSCN1433 DSCN1412 DSCN5598 DSCN9969 DSCN9080 DSCN9349 DSCN3226 DSC_0972 DSC_0974 DSC_0963 DSCN9062 4827080606_26bfbab6d1_b.jpg_effected

DSCN1259 DSC_0026

e a c

Ketika beranjak dewasa dan melihat adik-adik pengurus remaja di gereja saya saat ini, agak cukup sedih. Rasanya sulit sekali meluangkan waktu untuk rapat-rapat selain di hari Minggu dan seperti agak individualis (mungkin efek perkembangan jaman dan teknologi). Kebersamaannya agak kurang aja sih. Tapi untungnya energi positifnya masih ada.

Sepuluh tahun kemudian, kami memang tidak sedekat dulu karena sudah kuliah, ada yang keluar negeri/keluar kota, terpisah waktu karena kegiatannya semakin beragam, jadi susah banget ketemu. Thanks to technology, kami bisa keep in touch via whatsapp group. Walau ga ketemu, tapi tetap tau kabar dan ceritanya. Terharu rasanya melihat kami yang sudah dewasa dengan tingkat obrolan yang sudah lebih berat pastinya. Bekka yang sudah jadi dokter umum, Kara yang sedang mengambil S2 psikologi, Kezee yang jadi accountant, Jiva yang jadi interior designer, dan saya yang sudah jadi ibu rumah tangga. Selalu nambah ilmu ketika jumpa dan ga pernah cukup waktunya sangking banyaaak banget yang pengen diceritain. YanCan bener-bener jadi saksi cinta #aliciyan sih. Mereka ada di setiap kegalauan dari sebelum dan sedang pacaran dan terutama saat persiapan pernikahan #aliciyan. Kalau ga ada mereka rasanya ga kuat imannya.

Doaku selalu yang terbaik buat kalian dan buat persaudaraan kita, i love you too much girls ❤

DSC_1720

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s